Cahyo Tri Wibowo

~jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, tetapi tersenyumlah untuk bahagia~

Ekspedisi Gunung Merbabu (3142 Mdpl)

Akses menuju Basecamp Manggala Gg.Merbabu :
1. Dari arah jogja : jogja naik bus jurusan magelang turun di terminal magelang oper ke bis jurusan kopeng.
2. Dari arah semarang : semarang naik bus jurusan solo turun di terminal pasar sapi salatiga oper ke bus jurusan kopeng.
3. Dari arah solo : solo naik bus jurusan semarang turun di terminal pasar sapi salatiga oper ke bis jurusan kopeng.
(dari kopeng naik +- 2km ke dusun Cunthel).

Jarak Dan Waktu Tempuh :
+ Basecamp - Pos Bayangan I = 1 km (20menit)
+ Pos Bayangan I - Pos Bayangan II = 1 km (30menit)
+ Pos Bayangan II - Pos I = 456 m (20menit)
+ Pos I - Pos II = 527 m (30menit)
+ Pos II - Pos III = 506 m (30menit)
+ Pos III - Pos IV = 1389 m (90menit)
+ Pos IV - Persimpangan = 1 km (60menit)
+ Persimpangan - Pnck.Sarip = 200 m (15menit)
+ Persimpangan - Pnck.Kenteng Songo = 450 m (30menit)
Jarak dan waktu tempuh diatas ialah jarak dan waktu tempuh standar pendaki pada umumnya.

Pantangan :
+ Hindari berbuat mesum
+ Hindari bicara kotor
+ Jangan mengeluh
+ Dilarang buang air besar di Pos I

Bagi pendaki yg ingin menggunakan jasa porter harap menghubungi terlebih dahulu pada pihak basecamp sebagai konfirmasi.
contact person :
1. Mr. Tono = 081325932700
2. Mr. Yakub = 081227603787

Thanks to:

Johan Wisnu

Ananda Lagso

Dimas Handoko

Gagat siwi

Ekspedisi Gunung Merapi (2968 mdpl)

Gunung Merapi (2.968 m.dpl) terletak di 2 provinsi, di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Gunung merapi terletak berdampingan dengan Gunung Merbabu. Gunung merapi adalah salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara sekian banyak gunung api yang terletak di Indonesia serta merupakan salah satu gunung terganas di dunia. Nama puncaknya adalah puncak Garuda, yang merupakan bongkahan batu besar dengan bentuk mirip burung garuda. Salah satu ciri khas dari Gunung Merapi adalah pada saat terjadi letusan menghasilkan awan panas (glowing avalanches), yang oleh penduduk setempat disebut Wedus Gembel (sejenis kambing Jawa), awan panas ini mempunyai suhu sekitar 1.000 °C yang turun berbentuk bulatan keriting mirip kambing.

Ciri khas lain dari Gunung Merapi ini adalah pembentukan kubah lava yang bisa mencapai ratusan meter kubik perhari, yang terbesar jumlahnya sepanjang sejarah terjadinya letusan gunung berapi didunia. Letusan besar terakhir terjadi pada akhir tahun 1993 yang menyebabkan puluhan penduduk disekitar lereng meninggal karena diterjang lahar panas dan awan Panas. Walau begitu, gunung ini hampir tidak pernah sepi dari pendaki, bahkan pada hari minggu banyak sekali pendaki yang datang. Untuk mencapai puncak Gunung Merapi kita bisa melewati dua jalur utama, lewat Kinaharjo/Kaliurang dan lewat Selo/Boyolali.

Jalur Selo

Jika dari Kota Yogyakarta kita naik bus menuju ke Magelang, turun di Desa Blabak, dan dilanjutkan naik minibus atau kendaraan barang ke jurusan Selo. Sebaiknya diperhatikan, diatas pukul 17.00 WIB kendaraan dari Blabak ke Selo mulai jarang beroperasi. Sebenarnya Selo lebih mudah dicapai dari arah Solo-Boyolali, karena dari Boyolali, ada angkutan yang langsung menuju Selo. Desa Selo (1.560 m.dpl) saat ini menjadi gerbang pendakian utama. Desa Selo terletak dipelana Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Desa ini mempunyai panorama alam yang indah karena letaknya yang strategis. Penduduk desa ini sebagian besar bertani sayuran dan tembakau. Di desa ini juga terdapat tempat wisata gua yang mempunyai tempat pertapaan, terletak 300 meter dari Pos Polisi Selo.

Setelah tiba di gerbang desa selo, kita meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Basecamp pendaki di dusun Plalangan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. jalan yang kita lalui berupa jalan aspal yang cukup menanjak. lumayan, sebagai pamanasan sebelum pendakian yang sebenarnya. Ditengah perjalanan anda akan melewati sebuah pos kecil mirip pos hansip, dimana anda bisa melaporkan pendakian anda dengan biaya retribusi pendakian gunung merapi sebesar 2500 rupiah. Sepanjang perjalanan kita akan melewati rumah2 dan ladang penduduk. Saya selalu terkesan setiap kali melewati perkampungan di kaki gunung, terutama di jawa tengah. Saya selalu menyebutnya keramahan Khas Jawa tengah.

Basecamp atau Pondok pendaki, adalah sebuah rumah dimana terdapat ruang aula yang cukup luas untuk menampung pendaki yang ingin beristirahat, baik sebelum atau setelah melakukan pendakian. Tempat ini dapat menampung sekitar 30 0rang pendaki dan bisa dikenali dengan sebuah plang bertuliskan BASECAMP PENDAKIAN GUNUNG MERAPI dan sebuah toko suvenir didepannya. Menurut keterangan penghuninya, ini adalah basecamp baru, pindahan dari basecamp lama yang berada dibawahnya. ditempat ini anda bisa beristirahat sejenak dan packing ulang perlengkapan pendakian. Selain itu, anda juga bisa membeli suvenir berupa pernak – pernik gunung merapi, seperti Stiker, Gantungan Kunci, Pin, kaos bergambar gunung merapi, dan sebagainya dengan harga 3000 – 50.000 rupiah. Anda bisa mempersiapkan perbekalan air dari sini, karena sepanjang pendakian, anda tidak akan menemukan mata air.

Dari basecamp, perjalanan dilanjutkan menuju Joglo dengan jalur masih berupa jalan aspal yang menanjak dengan waktu tempuh kira-kira 10 menit. Joglo adalah sebuah bangunan berbentuk rumah joglo yang biasa digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan sekitar. Anda bisa memandangi eloknya gunung merbabu dengan jelas dari tempat ini. Tempat ini sudah terlihat dari jalan raya karena terdapat sebuah baliho atau tulisan besar yang bertuliskan NEW SELO. sekilas tampak seperti lambang Hollywood di Amerika sana. saya sempat tersenyum saat melihat baliho tersebut, kreatifitas yang tinggi dari pembuatnya. Disini juga terdapat tempat parkir yang dapat menampung hingga 6 buah mobil, dan beberapa buah warung yang menjual makanan dan minuman ringan. warung2 ini hanya buka sampai sore hari, terkecuali pada saat musim pendakian.

Dari Joglo, anda bisa melanjutkan perjalanan jalan setapak kecil yang berada disamping tempat ini menuju pos Tugu I. jalur yang akan anda lewati masih didominasi ladang penduduk dengan medan batuan kecil dan tanah yang pada musim kemarau akan sangat berdebu. Jika anda melakukan pendakian pada musim kemarau, sebaiknya anda menggunakan masker dan baju berlengan panjang. Banyak terdapat percabangan jalur di sepanjang trek pendakian, tapi berujung pada jalur yang sama. terserah anda memilih mana jalur yang kira2 nyaman untuk dilewati. Di Pos Tugu I ini terdapat sebuah tugu yang letaknya berada di sebuah punggungan, tingginya sekitar 1,5 meter.

Dari Pos I Perjalanan dilanjutkan menuju Pos Tugu II, dengan jalur yang curam dan penuh bebatuan besar. perjalanan menuju pos ini memerlukan waktu sekitar 1,5 – 2 jam. Di pos ini juga terdapat sebuah tugu, sama seperti di pos sebelumnya. dari sini anda tinggal memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju pasar bubrah. medan pendakian masih serupa dengan medan pendakian sebelumnya. menjelang pasar bubrah anda akan melewati sebuah beberapa memoriam yang berada pada sebuah dataran yang menjadi puncak sebuah punggungan. dari sini anda tinggal turun menuju pasar bubrah.Pasar bubrah berada pada sebuah lembahan yang dipenuhi batu – batu besar yang berserakan. dari sini terlihat 2 buah puncak. disebelah kiri anda adalah jalur menuju kawah woro.

Dan di hadapan anda adalah jalur yang menuju ke puncak garuda. dari pasar bubrah menuju puncak garuda memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan jalur yang sangat curam. medan yang anda hadapi adalah batuan vulkanis yang mudah longsor. sebaiknya anda berhati – hati karena angin kencang bisa datang setiap waktu. begitu juga dengan bahaya longsoran batu yang mungkin terinjak oleh pendaki diatas anda. Pendakian dari selo menuju ke puncak gunung merapi memakan waktu 5-6 jam dan turunnya membutuhkan waktu 3 – 4 jam per jalanan. Pemandangan di Puncak Garuda sangat menakjubkan sekaligus mengerikan, gemuruh kawah dan asapnya serta tebing batu di sekitar kawah nampak menyeramkan. Tetapi dari puncak ini kita bisa saksikan kota-kota di kaki-kaki gunung seperti Yogyakarta, Boyolali dan Magelang, pesisir Lautan Hindia di kaki langit. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan matahari terbit yang kemerahan diufuk timur yang merupakan panorama alam yang sungguh menakjubkan.

NB:Untuk pendakian 2 (dua) gunung sekaligus (Climbing party), biasanya jalur yang dipakai adalah Kopeng – Puncak Merbabu – Selo – Puncak Merapi dan kembali ke Selo.

Thanks to:

Adi K

Kinanda

Iman Kurniadi

Taufik H

Arifin

Bayu

Dimas Handoko

Ekspedisi Gunung Raung (3332 mdpl)

Sebagai gambaran umum bahwa Gunung Raung merupakan Strato Volcano yang secara geografis terletak pada tiga Kabupaten yaitu, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi, menurut catatan yang ada gunung ini pernah meletus sebanyak 58 kali dengan rata-rata letusan terdasyat menghasilkan guguran lava hingga 60 km. Akibat letusan yang berurutan tersebut pada tahun 1586, 1593, 1597, 1638, 1730, 1817, dan 1938, telah memunculkan danau-danau kawah. Sedangkan letusan terdasyat terjadi pada tahun 1638, yang mengakibatkan banjir lahar pada kali Klatak dan Setail dan merenggut nyawa lebih dari 1000 orang tewas.

Untuk menuju gunung Raung dari jalur normal harus melalui Sumber Wringin. Untuk menuju Sumber Wringin dari terminal Bondowoso, estafet menggunakan Minibus menuju Wonosari dari pertigaan jalan yang membelah arah ke Gunung Raung dan Gunung Ijen.

Dari pertigaan itu atau di pasar Sukosari dapat dilanjutkan menggunakan angkutan desa menuju Sumber Wringin, yang terletak dilereng utara gunung Raung. Dari tempat inilah Pendaki dapat mempersiapkan perbekalan terutama air, karena sepanjang perjalanan ke gunung Raung hingga sampai puncak tidak akan ditemukan sumber mata air. Perijinan secara administrasi juga dilakukan di kantor desa ini yang juga merupakan Pos Vulkanologi. Sesudah itu perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pondok Motor yang berjarak sekitar 8 km dapat menggunakan ojek dengan biaya 30.000 atau berjalan kaki selama 3,5  jam melewati hutan pinus dan perkebunan kopi milik penduduk akan sampai di Pondok Motor.

(ojek menuju Pondok Motor)

CP ojek: a/n Pak Habibie 081234877340

Kami bertiga melakukan perjalanan dari Pondok Motor dengan persiapan yang sangat cukup dan kondisi kesehatan yang stabil. Dari Pondok Motor kami mulai menerobos perkebunan kopi milik penduduk, jalannya masih landai kira-kira 20 derajat, beberapa menit kemudian kami masuk dalam kawasan Hutan Raya Raung yanag didominasi pohon glendong, arcisak, dan takir. Setelah melewati ini kami menemui sebuah persimpangan jalur yang kekiri menuju Gunung Suket dan kami mengambil jalur lurus menuju Raung. Lintasan mulai terasa naik turun ketika sudah berada pada ketinggian 1.300-1.600 mdpl. Dari Pondok Motor menuju Pos II atau Pondok Sumur ini memakan waktu 3-4 jam.

Pondok Sumur merupakan dataran pada ketinggian 1750 mdpl, dari sini perjalanan terasa mulai menanjak, dengan membawa beban masing -masing sekitar 15 kg di punggung, perjalanan mulai terasa lambat, semakin naik jalanpun makin kelihatan sempit akibat tertutup semak-semak rimbun , sekitar dua jam berjalan sampailah kami di Pondok Dhemit, yang hanya bertanda sebuah papan nama yang menempel di pohon.

Dengan nafas tersengal-sengal kami berhenti dan melemparkan ransel ketanah, setelah jantung agak reda berdegup kuambil botol air dan meneguknya, rasa segar terasa ketika menarik nafas dalam-dalam sambil berteriak. Di Pondok Dhemit ini kami mendirikan tenda, masak, dan tidur, dikarenakan jam sudah menunjukkan jam 6 sore, perjalanan dilanjutkan pada malam harinya.

Perjalanan akan dilanjutkan menuju Pondok Mayit. Menurut informasi, dari Pondok Demit ke Pondok Mayit, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam. Jalur lintasan dari pondok Demit ke Pondok Mayit tidak jauh beda dengan lintasan sebelumnya, namun setelah kita mau memasuki Pondok Mayit, pemandangan mulai berubah karena kawasan Pondok Mayit ini mulai terlihat tanaman edelweiss atau bunga abadi, karena memang bunga ini walaupun sudah dipetik tetap tak layu seperti bunga lainnya.

Setelah beristirahat sekitar 4 jam menit, perjalanan kami lanjutkan menuju Pondok Anginyang merupakan sebuah dataran pada ketinggian 2.750 mdpl, ini merupakan dataran terakhir. Pondok Angin ini ditumbuhi tanaman-tanaman kerdil seperti Anggrek Gunung, Cantigi dan lainnya dari Pondok Mayit ke Pondok Angin membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam, disinilah kami membangun tenda untuk tempat carier yang ditinggal sebagai persiapan menuju puncak.

Dini hari sekitar jam 3 setelah membangun tenda kamipun berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, karena medannya menanjak dan licin kami putuskan untuk tidak membawa beban kecuali air minum dan kamera. Barang-barang kami tinggalkan di Pondok Angin di dalam tenda. Pondok Angin terletak sebelum batas vegetasi antara daerah tundra dengan daerah berbatu pasir. Meski tidak seterjal Pasir Gunung Semeru, jalur ke puncak Raung ini juga rawan terhadap angin kencang, untuk itu kami selalu berdekatan, angin kencang ini sangat membahayakan karena lintasan ini berbatu kerikil yang licin. Dalam perjalanan ke puncak ini terdapat tugu kecil batu marmer In Memoriam Deden Hidayat, seorang pendaki asal Bandung yang meninggal di Puncak Raung pada tahun 1993. Selepas tugu itu sikitar 45 menit kami sampai di Puncak Gunung Raung di ketinggian 3.332 mdpl.

(In Memoriam Deden Hidayat)

Puncak Raung tidak terlalu lebar seperti puncak-puncak lainnya, karena berbentuk bibir kawah yang sempit dan dari sini kita bisa melongok kawah Raung yang memiliki kawah. Kawahnya merupakan terbesar di Pulau Jawa dengan diameter hampir 2 km dan kedalaman vertikal 500 m, di mana di tengah kawah menjulang gunung baru setinggi kurang lebih 100 meter dan selalu mengeluarkan kepulan asap putih berbau belerang.

( Puncak G. Raung)

Thanks to:

Taufik Hidayat

Slenk

Ekspedisi Green Canyon ; Ciamis, Pangandaran

Nama Green Canyon dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993. Nama aslinya adalah Cukang Taneuh. Green Canyon memiliki keunikan tersendiri. Dari perjalanannya sendiri dari dermaga selama 30 menit kita akan senang melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca (kalau lagi tidak musim penghujan). Dalam perjalanan kita melihat kehidupan di bantaran sungai. Sesekali terlihat biawak, ular dan penduduk yg sedang mancing atau menjala ikan.


Mendekati Cukang Taneuh, kita disuguhi pemandangan sungai dengan sedikit jeram dengan alur sempit di mana perahu sudah tidak bisa meneruskan perjalanan karena cadiknya yang lebar. Kapasitas parkirnya juga terbatas. Jadi kita ditunggu dalam waktu yg tidak terlalu lama, atau perahu keluar dan kembali lagi dalam waktu yg kita tentukan, kecuali kalau kita booking perahunya sekalian tim untuk menyusuri Green canyon dengan berenang. Perahu sudah difasilitasi dengan pelampung, jadi jangan khawatir jika tidak bisa berenang.

Di sini air sangat jernih kebirua-biruan. Untuk melihat keunikan yg sesungguhnya, kita disarankan untuk terus keatas dengan berenang/body rafting atau merayap di tepi batu. Perjalanan ini sepenuhnya aman. Anak-anak 6 tahun ke atas dapat ikut menggunakan ban dengan panduan life guard pemilik perahu yang kita sewa. Sepanjang perjalanan,kita akan terus berada di cekungan dengan dinding terjal di kanan kiri, sebagian dinding menyerupai gua dengan atap yang sudah runtuh.

Di bagian tertentu masih tersisa stalaktit di mana air tanah menetes. Setelah beberapa ratus meter berenang, kita akan melihat beberapa air terjun kecil di kiri kanan yang sangat menawan. Jika terus penasaran dengan ujung jalan, akan sampai di sebuah tempat dengan gua yang dihuni oleh kelelawar. Di sepanjang alur ini, kita dapat berenang sepuas-puasnya. Kita juga dapat menjumpai pemandian putri yang merupakan tempat pemandian para putri raja, konon jika seseorang mandi di tempat ini akan menjadi tambah dan awet muda.

Foto-foto di bawah ini adalah bagian dari ekspedisi kami di Cukang Taneuh yang masih terjangkau oleh kamera digital seadanya, maklum, kemarin tidak sempat meminjam dry bag dari teman. Untuk menjangkau bagian hulu, kamera perlu dibawa dengan berenang. Dengan sangat hati-hati teman saya membungkus kamera dengan tas plastik rangkap 3 yang kemudian dimasukkan ke dalam tas untuk melindungi kamera dari basahnya air.

Thanks to:

Kinanda

Ardiansyah Bayu dkk

Mas Cabe sang ‘Life Guard


Ekspedisi Pulau Dewata (Bali Bergoyang)

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana

Tempat ini adalah sebuah taman wisata di bagian Selatan Pulau Bali. Tidak jauh dengan Pantai Dreamland, Tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung. Dengan jarak kurang lebih 40 km disebelah selatan Kota Denpasar. Taman budaya ini menurut rencana akan didirikan sebagai maskot bali, yaitu patung berukuran raksasa Dewa Wisnu yang sedang menunggangi Garuda. Tempat yang berlokasi di Bukit Unggasan, Jimbaran Bali terkenal dengan karya pematung dari Bali. Beliau bernama I Nyoman Nuarta. Dengan tiket masuk per orang @ Rp. 20.000,- yang mana merupakan jumlah nominal tiket wisata yang besar, bisa dipastikan layanan dan fasilitas wisata yang mengagumkan.

Dreamland

Dreamland atau lebih dikenal merupakan salah satu pantai terindah di Bali selain Pantai Kuta. Pantai ini terletak di daerah Pecatu, sebuah daerah di bagian selatan Bali. Pantai yang terletak tidak jauh dari daerah Uluwatu di Pulau Dewata ini sudah sangat terkenal karena keindahannya. Keindahan dan kebersihan pantai menambah daya tarik pengunjung, bukan hanya dari dalam negeri tapi juga turis manca negara.

Uluwatu

Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari Abad 11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah/Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu. Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.

Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga surfing, bahkan event internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat surfing selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.

Thanks to:

Fauzi

Yusuf Adi W

Kaka Abba

Jakarta International JAVA JAZZ Festival 2010

Sejarah Musik Jazz di Indonesia

Musik jazz masuk Indonesia pertama kali pada tahun 30-an. Yang dibawa oleh musisi-musisi dari Filipina yang mencari pekerjaan di Jakarta dengan bermain musik. Bukan hanya mentransfer jazz saja, mereka juga memperkenalkan instrumen angin, seperti trumpet, saksofon, kepada penikmat musik Jakarta. Mereka memainkan jazz ritme Latin, seperti boleros, rhumba, samba dan lainnya. Nama-nama musisi yang masih diingat adalah Soleano, Garcia, Pablo, Baial, Torio, Barnarto dan Samboyan. Selain bermain di Jakarta, seperti di Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin Plaza) dan Hotel Der Nederlander (jadi kantor pemerintahan), mereka juga bermain di kota lain, seperti di Hotel Savoy Homann – Bandung dan di Hotel Oranje (Yamato) – Surabaya.

Pada tahun 1948, sekitar 60 musisi Belanda datang ke Indonesia untuk membentuk orkestra simfoni yang berisi musisi lokal. Salah satu musisi Belanda yang terkenal adalah Jose Cleber. Studio Orkestra Jakarta milik Cleber mengakomodasi permainan musik California. Band-band baru bermunculan seperti The Progressive Trio, Iskandar’s Sextet dan Octet yang memainkan jazz dan The Old Timers yang memainkan repertoir Dixieland. Pada tahun 1955, Bill Saragih membentuk kelompok Jazz Riders. Ia memainkan piano, vibes dan flute. Anggota lainnya adalah Didi Chia (piano), Paul Hutabarat (vokal), Herman Tobing (bass) dan Yuse (drum). Edisi selanjutnya beranggotakan Hanny Joseph (drum), Sutrisno (saksofon tenor), Thys Lopis (bass) dan Bob Tutupoly (vokal).

Band jazz yang terkenal tahun 1945-1950 di Surabaya beranggotakan Jack Lemmers (dikenal sebagai Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana) pada bass/gitar, Bubi Chen (piano), Teddy Chen, Jopy Chen (bass), Maryono (saksofon), Berges (piano), Oei Boen Leng (gitar), Didi Pattirane (gitar), Mario Diaz (drum) dan Benny Hainem (clarinet). Nama-nama musisi jazz di Bandung tahun 50-60an adalah Eddy Karamoy (gitar), Joop Talahahu (saksofon tenor), Leo Massenggani, Benny Pablo, Dolf (saksofon), John Lepel (bass), Iskandar (gitar dan piano) dan Sadikin Zuchra (gitar dan piano).

Musisi-musisi muda di Jakarta bermunculan tahun 70-80an. Di antaranya Ireng Maulana (gitar), Perry Pattiselano (bass), Embong Raharjo (saksofon), Luluk Purwanto (biola), Oele Pattiselano (gitar), Jackie Pattiselano (drum), Benny Likumahuwa (trombon dan bass), Bambang Nugroho (piano), Elfa Secioria (piano). Beberapa musisi muda lainnya mempelajari rock dan fusion, tapi masih dalam kerangka jazz. Mereka adalah Yopie Item (gitar), Karim Suweileh (drum), Wimpy Tanasale (bass), Abadi Soesman (keyboard), Candra Darusman (keyboard), Joko WH (gitar) dan lainnya.

Pertengahan tahun 80-an, nama Fariz RM muncul. Ia lebih mengkategorikan musiknya sebagai new age. Namun, beberapa komposisinya bernafaskan pop jazz, bahkan latin. Indra Lesmana, Donny Suhendra, Pra B. Dharma, Dwiki Darmawan, Gilang Ramadan membentuk Krakatau, dan akhirnya kelompok ini bertransformasi menjadi Java Jazz, dengan mengganti beberapa personil. Tahun 90-an hingga sekarang, banyak sekali musisi dan kelompok jazz yang terbentuk. Musik jazz yang dibawakan tidak lagi mainstream, namun hasil distilasi berbagai musik seperti fusion, acid, pop, rock dan lainnya. Sebut saja SimakDialog, Dewa Budjana, Balawan dan Batuan Ethnic Fusion, Bali Lounge, Andien, Syaharani, Tompi, Bertha, Maliq & D’essentials dan masih banyak lagi lainnya.

Musisi jazz biasanya banyak bermunculan di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Hal ini disebabkan arus musik jazz lebih banyak mengalir di sana lewat pertunjukan jazz (JakJazz, Java Jazz Festival, Bali Jazz Festival), sekolah musik jazz, studio rekaman dan kafe yang menampilkan jazz. Seorang yang juga berjasa “mengalirkan” arus jazz ke Indonesia adalah Peter F. Gontha, seorang pemilik JAMZ dan pendiri pemrakarsa Java Jazz Festival.

Sumber:  http://davidceperasta.ngeblogs.com/2009/…)

(Performa David Murray di JJF 2010)

(Performa Dewa Budjana dan Dony Suhendra di JJF 2010)

Thanks to:

My Sisters

Kinanda

Ziarah Makam Bung Karno, The Founding Father

“Macan mati meninggalkan kulit, gajah mati meninggalkan gading.” Orang besar mati meninggalkan nama. Itulah yang terjadi pada Bung Karno, Presiden Pertama RI dan salah satu proklamator kemerdekaan. Berwisata ke Makam Bung Karno mengingatkan kita kembali kerasnya perjuangan dalam merebut kemerdekaan.

Blitar kini semakin tersohor. Kota yang berada di wilayah Jawa Timur itu terus menggelorakan wisata sejarah dengan mengandalkan objek wisata kompleks makam Bung Karno serta gedung perpustakaan dan museum proklamator Kemerdaan RI itu. Makam presiden pertama RI yang berada di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, itu sekaligus menjadi tempat ziarah ribuan orang, termasuk para pejabat dan mantan pejabat pemerintah RI.

(Gong Perdamaian Dunia di kompleks Makam Bung karno)

Thanks to:

Rizky Mahendra and Family


JAVA ROCKIN`LAND 2009

Java Rockin`land 2009, menghadirkan grup musik rock asal Amerika Serikat (AS) dalam festival Java Festival Production (JPF) di Ancol Jakarta, 7 sampai 9 Agustus 2009 kemarin. Diantaranya adalah Melee, Mr. Big dan Secondhand Serenada. Setelah sukses dengan Jakarta International Java Jazz Festival dan Jakarta International Java Soulnation Festival, Java Festival yang didukung Gudang Garam International dan Telkomsel menggelar festival terbaru. Sebuah festival rock yang akan mengguncang festival musik internasional, terutama karena langkanya festival musik rock yang berskala internasional di kawasan Asia.

Selain menampilkan grup musik luar negeri, festival tersebut juga akan menampilkan sejumlah grup musik rock asal negeri sendiri, diantaranya, grup musik Rif, Gigi dan Slank. “The Brandals, The Upstrairs, The S.I.G.I.T, Purgatory, Agrikultur, Seringai, merupakan beberapa grup musik yang juga bakal meramaikan Java Rockin`land 2009,”.

(Performa Mr. Big di Java Rockin’ Land)

Thanks to:

Gagat S.P

Johan W. S

Haqi

My Sister’s family

Ekspedisi Pantai Jonggring Saloka

Jalan menuju Pantai Jonggring Saloka agak sulit. Mulai dari kampung Mentaraman, di selatan Donomulyo, jalannya berbatu. Namun akibat hujan yang terus mengguyur, jalanan berbatu itu menjadi licin dan di sana sini tergenang lumpur. Nama lengkap tempat ini adalah Jonggring Saloka (artinya khayangan, tempat bersemayam para dewa). Tempat ini jauh dari pemukiman penduduk. Dengan demikian, lingkungannya masih cukup terjaga. Jarak ke kampung terdekat jaraknya sekitar 5 km. Di Jonggring memang ada sekitar 6 rumah. Yang tinggal di sana adalah petani dan pencari rumput. Mereka tinggal secara temporer dan kalau pun memancing, jumlah ikan yang dipancing secukupnya saja. Mereka juga peduli terhadap kelestarian kehidupan laut di sana. Garis pantai Jonggring cukup beragam. Ada yang berpasir putih, ada karang dangkal, dan ada pula yang dalam serta bertebing curam. Terumbu karang meski samar terlihat masih terjaga dengan baik. Menjelang sore banyak sekali pemancing lokal yang datang untuk memancing baronang, kerapu, dan kakap merah.


image0691

Thanks to:

Iman Kurniadi’s Family

Adi Kurniawan

Haris Fadillah

Bunga

Ananda Lagso

Andi Agung

Yoyok

Johan Wisnu

Ekspedisi Kawah Ijen (2386 mdpl)

Kawah Ijen merupakan salah satu gunung berapi atraksi wisata di Indonesia. Kawah Ijen merupakan objek wisata terkenal, yang telah dikenal oleh para wisatawan domestik dan asing karena keindahan alamnya. Kawasan Wisata Kawah Ijen terletak di tengah area cagar alam. Kawah Ijen yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bondowoso, Kecamatan Klobang. Kawah ini berupa danau berwarna hijau tosca yang berada di ketinggian 2.368 mdpl. Kawah itu berdinding kaldera setinggi 300-500m. Danau Ijen memiliki derajat keasaman nol, memiliki kedalaman 200 meter. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari manusia.

Rute Perjalanan

Melalui kota Bondowoso ke arah timur melalui Wonosari-Sempol-Paltuding sejauh 70 km. Jika lewat rute dari Bondowoso, dalam perjalanan akan melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi yang mempunyai tiga pintu gerbang yang berbeda. Pada setiap pintu gerbang, pengunjung akan diminta untuk mengisi buku tamu dan menuliskan tujuan perjalanannya. Pemandangan kawasan ini sangat menarik dengan hamparan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, kemudian setelahnya ada hutan pinus milik Perhutani dan juga hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang begitu lebat.

Untuk mencapai kawah Ijen dari Surabaya, kita bisa menggunakan transportasi umum dengan rute sebagai berikut:

  • Surabaya – Bondowoso  : 180 km dengan bis umum
  • Bondowoso – Paltuding  : 68 km dengan transportasi umum
  • Paltuding – untuk lokasi : 2 km dengan berjalan kaki

Perjalanan wisata ke kawah Ijen, dari Paltuding yang merupakan sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi-Ijen. Dari sini terdapat jalan tanah menanjak ke ketinggian 2386 mdpl dengan waktu tempuh 2 jam dengan berjalan santai. Tiba di bibir kawah, pemandangan yang menakjubkan akan segera tersaji di depan mata. Sebuah danau hijau dengan diameter sekitar 1 km yang berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Pengunjung bisa melihat penambang-penambang belerang yang berada di dekat danau. Untuk menuju ke danau, pengunjung harus menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang juga biasanya dilalui oleh para penambang.

Pesona Lain Kawasan Ijen

Jika menyukai suasana perkebunan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Perkebunan inilah yang dilewati ketika menuju kawasan Ijen melalui rute Bondowoso. Tersedia pula sajian paket agrowisata  mengunjungi kebun kopi dan melihat unit pemprosesan biji kopi. Selain itu juga terdapat pula Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau bisa membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding.

Thanks to:

Iman Kurniadi

Adhi K

Kinanda

Bunga

Haris Fadilah

Malam Tahun Baru 2009 @ Pacet, Cangar, Batu,& Malang (Complicated)

31 Desember 2008

Setelah dijamu warga Kertajaya 5E 23i, tepat jam 11 malam kami berempat meninggalkan Surabaya dengan kondisi perut yang amat sangat kenyang. Perjalanan dimulai, perlahan mulai meninggalkan kota Surabaya yang sedang hingar bingarnya merayakan tahun baru 2009. Sekilas sempat melihat  hedonisme para anak muda penerus bangsa, walaupun cuma setengah jam. Perjalanan kami lanjutkan ke arah Pacet Mojokerto, yang kata Cika view nya bagus di sana. Di sana ada juga pemandian air panas, air terjun, penjual pentol, jagung bakar, dll. Intinya kita ngerayain tahun baru di jalan. Sampai Pacet jam 2 dini hari, haduh….pegel pol!!! Dan inilah ekspresinya…

Berhubung jamuan dari Surabaya sudah mulai berkurang, perutpun sudah mulai berbunyi (ikan bakarnya habis dalam perjalanan…hahaha), kamipun langsung menuju workop sambil istirahat, dan akhirnyapun aku tertidur pula di situ…ssssttttt! Paginya kami segera menuju ke air terjun yang tidak jauh dari lokasi pemandian air panas, namanya lupa. Lumayan dekat kok, kalau jalan kaki paling juga 1 jam sudah sampai.

Eitz…setelah itu aku melihat ada plakat yang bertuliskan ‘>>>Makam Sunan Pangkat’, Aku dan Johan segera memutuskan untuk menyambangi tempat itu. Tempatnya agak jauh, di atas bukit. Kalau berjalan santai 2 jam PP juga sampai. Dan apa yang terjadi?Jepret…

Setelah mandi besar, bersih diri, kami segera pulang. Tidak terduga, jalanan macet total. Kami memutuskan untuk lewat Cangar-Malang, walaupun agak jauh sebenarnya. Tangan mulai bergerilya, mencari kontak di HP menghubungi teman-teman di Malang, ehh…ketemu juga. Kami sempat juga mampir UB. Akhirnya ketemu juga bidadari cantik-cantik di UB.

Berhubung malam juga semakin larut, kami juga sempat berkunjung ke rumah Fikar, gak berkunjung sih (emang kita sengaja), hahaha, capek banget soalnya. Kamipun tidur pulas setelah disuguhi tahu tek serta Wining Eleven…Very complicated deh!!!

Thanks to:

Andhika Candra

Andi Agung

Johan Wisnu

Uly Darojah

Fikar

Ekspedisi Air Terjun Madakaripura

Kawasan wisata Gunung Bromo ternyata menyimpan satu lokasi wisata yang unik dan menawan. Lokasinya tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke utara). Namanya adalah air terjun Madakaripura. Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada jaman dahulu, konon Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini. Cerita ini didukung dengan adanya arca Gajah Mada di tempat parkir area tersebut.

Untuk mencapai tempat wisata ini tidak terlalu sulit. Sebaiknya kunjungan dilakukan bila kita akan ke Bromo dari arah Probolinggo dikarenakan searah dengan perjalanan atau saat berada di Bromo dan dilakukan pagi hari. Jika kita datang dari arah Probolinggo maka sesampai di  Desa Sukapura kita belok kanan, kita akan melewati jalan aspal dengan suguhan pemandangan pada bagaian kiri-kanan berupa gunung tinggi yang menyegarkan mata. Kurang lebih setelah sekitar 5 km melakukan perjalanan, kita akan bertemu dengan pintu masuk kawasan wisata air terjun Madakaripura yang ditandai dengan tempat parkir yang luas dan patung Gajah Mada. Di sini, banyak penduduk lokal yang menawarkan diri menjadi guide yang akan menemani sambil menceritakan sejarah objek wisata tersebut hingga kita balik lagi ke tempat parkir (tapi lumayan mahal sih), lebih baik jalan sendiri, deket kok.

Selanjutnya kita harus berjalan kira-kira 15 menit,  melewati jalan setapak terbuat dari semen yang kebanyakan telah banyak yang longsor, sehingga harus menyeberangi sungai-sungai kecil. Saat berjalan kaki ini kita juga disuguhi pemandangan indah dan menyejukkan, di samping kanan kita ada aliran sungai berbatu-batu, di kanan kiri kita diapit tebing tinggi dengan pepohonan lebat beserta iringan kicauan burung dan derikan kumbang. Terkadang di beberapa bagian jalan, terhalang oleh pohon roboh, meskipun demikian jalan ini relatif datar dan dapat dijalani dengan mudah, kalau kecapekan ada beberapa tempat di sepanjang jalan yang bisa digunakan untuk duduk-duduk beristirahat.

Saat tiba di lokasi air terjun kita akan bertemu dengan warung kecil, pos penjaga, dan toilet (bisa buat ganti baju), terdapat pula penyewaan payung bila kita tidak ingin terlalu basah kuyup. Air terjun ini berawal dari air yang mengalir dari tebing memanjang dan membentuk tirai, sehingga kita bisa berpayung ria berjalan di bawahnya. Di ujungnya, kita akan bertemu dengan sebuah ruangan berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira 25 meter.

Berdiri di dalam ruangan alam ini kita akan merasa seolah berada di dasar sebuah tabung, di mana terdapat air terjun dengan ketinggian sekitar 200 meter, dengan limpahan air yang jatuh dengan derasnya dari atas dan berubah menjadi selembut  kapas. Air yang jatuh di kolam ini menimbulkan bunyi yang berirama, terkadang bunyi yang ditimbulkannya lebih keras dikarenakan air yang jatuh lebih deras. Keunikan dan kesejukan air terjun ini membuat kita betah berlama-lama memandanginya. Untuk anda  penggemar fotografi, lokasi ini bisa menjadi obyek yang tidak habis-habisnya, mulai dari pintu masuk kedatangan  hingga suasana air terjun yang seolah dalam tabung. Eits…satu lagi, cocok juga buat foto pre weding lo…hahaha

Sesudah puas main air dan kedinginan, kita bisa menikmati minuman panas di warung dekat air terjun sebelum berjalan kaki lagi menuju tempat parkir. Secara umum tempat ini telah dikelola dengan cukup baik,  dapat dicapai lewat jalan aspal yang mulus, jalan setapak yang nyaman, fasilitas umum seperti kamar mandi, mesjid dan tempat parkir. Namun kurangnya informasi mengenai tempat ini dan jaminan keamanan yang belum ada mengakibatkan jarang orang tahu dan mau berkunjung ke kawasan wisata ini. Dengan promosi yang cukup, pengunjung Bromo akan dapat menambah daftar tujuan wisatanya.

Thanks to:

Kinanda

Adhi K

Iman Kurniadi

Haris Fadilah

Bunga

Ekspedisi Gunung Panderman (2000 mdpl)

Gunung Panderman menjadi pembatas ekosistem antara Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar dan Kotamadya Batu. Posisi gunung yang memanjang ke arah utara berderet dengan Gunung Biru di Desa Sumber Berantas dan kearah selatan berhubungan langsung dengan Gunung Kawi. Wilayah Kotamadya Batu yang berhubungan langsung dengan Gunung Panderman adalah Desa Tulungrejo Kecamatan Junrejo, Desa Oro-oro Ombo, Desa Sisir, Ngaglik, Pesanggrahan dan Songgokerto Kecamatan Kota Batu. Ini dia…


Thanks to:

Kinanda

Saad

Johan Wisnu

All Crew of ASPAL Malang


Ekspedisi Gunung Salak ( 2211 mdpl)

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, dahulu terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para peziarah. Di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, makam keramat ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi. Pendakian terbaik dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa, licin sekali dan banyak lintah. Selain itu angin seringkali bertiup kencang. Gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur diantaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berjiarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi.

JALUR CANGKUANG CIDAHU

Wana Wisata Cangkuang Cidahu ini selain menjadi tempat perkemahan dengan pemandangan air terjun yang indah, sering digunakan para pengunjung untuk menuju ke Kawah Ratu. Dari Jalur ini pendaki juga dapat menuju ke puncak gunung Salak I. Dari Jakarta kita dapat menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi turun di Cicurug. Selanjutnya dari Cicurug disambung dengan mobil angkot jurusan Cidahu. Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke air terjun kita harus turun ke bawah dari MCK di dekat pintu masuk pendaftaran. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam. Dari Bumi perkemahan menuju Shelter I Jalur awal curam berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian kita akan menempuh jalur yang berfariasi, datar, naik dan turun. Menuju Shelter II jalur mulai lembab dan basah, dimusim penghujan banyak terdapat pacet. Beberapa sungai kecil akan kita lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Kita akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka disekitar jalur ini.

Di Shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat. Di dekat Shelter II ini terdapat sungai yang kering pada saat musim kemarau. Menuju Shelter III kita akan melewati jalan-jalan yang becek, berlumpur dan banyak pacet terutama di musim hujan. Di beberapa tempat jalur berupa tanah licin yang curam, namun kita masih agak tertolong adanya akar-akar pohon. Shelter III tempatnya luas dan terdapat sungai yang jernih, di tempat ini pendaki dapat mendirikan tenda. Untuk menuju Shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat kita akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Jalur akan semakin parah pada saat musim hujan dan banyak sekali pacet. Kita akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya kita mengambil air bersih disini karena disini lah sumber air bersih terakhir terutama di musim kemarau. Shelter IV berupa persimpangan jalan, untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini pendaki juga dapat mendirikan tenda. Di sebelah kanan shelter IV terdapat sungai kecil yang kering dimusim kemarau.

MENUJU KAWAH RATU

Dari Shelter IV masih diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju Kawah Ratu. Kawah ini terdiri 3 kawah; Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu termasuk kawah aktif dan secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang. Dianjurkan agar berhati -hati setibanya di kawasan Kawah Ratu, perhatikan jalan yang dilalui. Di kiri-kanan tampak letupan -letupan kecil kawah aktif yang bersuhu sangat panas. Kawah ratu berupa sungai dengan batu-batuan belerang yang menghasilkan panas, air yang mengalir terasa hangat ada juga yang sangat panas. Banyak wisatawan baik tua maupun anak-anak datang ketempat ini untuk mandi dan melumuri badan dengan belerang yang berkasiat menghilangkan penyakit kulit maupun memutihkan badan. Sebaiknya kita tidak berlama-lama di Kawah Ratu terutama di musim penghujan. Dilarang mendirikan tenda di Kawah Ratu dan tidak minum air Kawah Ratu yang sudah bercampur dengan air belerang.

MENUJU PUNCAK GUNUNG SALAK

Dari Shelter IV kita berbelok ke kanan setelah melewati sungai kecil kita akan bertemu dengan jalur lama di sebuah tempat yang agak luas. Untuk menuju ke puncak kita berjalan ke kiri mengikuti pagar kawat berduri. Jalur agak landai menyusuri punggung gunung yang becek dan di selimuti hutan lebat. Di sisi kiri dan kanan jalur ini banyak ditumbuhi pohon pandan yang daunnya berduri tajam menghalangi jalan, sehingga kita perlu agak hati-hati. Di musim penghujan jalur ini sangat becek seperti rawa-rawa dan banyak pacet/lintah. Berhubung jalur ini jarang dilalui dan seringkali hilang tertutup pohon dan rumput sebaiknya membawa golok untuk membuka jalur. Setelah 1 jam melintasi rawa-rawa Jalur semakin curam melintasi akar-akar pohon dan bebatuan menyusuri sisi tebing yang sangat berbahaya. Jalur kadang sedikit menurun, agak landai, kemudian kembali menanjak tajam. 1 jam kemudian kita akan sampai di Shelter 3 jalur lama. Dari Shelter 3 menuju Shelter 4 kita membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan melintasi akar-akar pohon, yang tertutup tanah lunak sehingga kaki bisa kejeblos. Bila angin bertiup kencang maka pohon-pohon akan bergoyang dan tanah yang kita injak pun akan bergoyang. Dari tempat ini kita dapat melihat Kawah Ratu dengan sangat jelas. Di sekitar daerah ini kadangkala kita akan mencium bau belerang yang berasal dari Kawah. Jalur ini sangat sempit dengan sisi kiri kanan berupa jurang yang curam dan dalam. Jalur berfariasi sedikit turunan kemudian sedikit landai, lalu kita mulai mendaki punggung yang curam kembali. Shelter IV ada sedikit ruang untuk mendirikan 1 buah tenda kecil dengan sisi kanan berupa jurang. Bau belerang yang berasal dari Kawah Ratu kadang tercium ketika angin bertiup ke arah puncak gunung.

Sekitar 1 jam menuju Shelter 5 jalur sedikit menurun kemudian kembali menanjak tajam, menyusuri punggung gunung di antara akar-akar pohon-pohon. Kemudian kita akan memanjat tebing batu curam, kedua tangan kita harus mencari pegangan batu, sehingga semua barang bawaan harus diikat atau dimasukkan kedalam tas. Di Shelter 5 pendaki dapat mendirikan tenda, tempat ini agak luas sehingga bisa digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Menuju Shelter 6 memerlukan waktu sekitar 1 Jam Jalur semakin curam dan berbahaya, jalur begitu sempit sehingga tidak ada tempat untuk beristirahat. Menuju Shelter 7 jalur semakin curam dan berbahaya kita perlu waktu sekitar 1 jam untuk mendaki punggung gunung yang semakin menanjak. Jalur kebanyakan melintasi akar-akar pohon sehingga bila angin bertipu kencang kita pun akan bergoyang-goyang sehingga menggetarkan jantung. Dari Shelter 7 kita hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menuju puncak gunung Salak I, jalur sudah tidak terlalu curam lagi, masih melintasi akar-akar pohon dan batu-batuan berselimut tanah gembur. Puncak gunung Salak I masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, tempat ini sangat luas dapat digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Terdapat beberapa makam kuno salah satunya makam Embah Gunung Salak. Terdapat juga sebuah pondok untuk beristirahat bagi para pejiarah, Air hujan dari pondok ini ditampung dalam sebuah bak penampungan, sehingga dapat digunakan oleh para pendaki dan para pejiarah. Angin kencang sering bertiup, terutama di musim penghujan. Untuk mendaki gunung Salak sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim kemarau, biasanya jalur tidak terlalu becek, kemungkinan hujan tidak turun, tidak ada pacet / lintah, angin tidak terlalu kencang. Di musim penghujan jalur tertutup tanaman harus membawa golok untuk membuka jalur terutama alang-alang dan daun pandan yang berduri tajam. Lakukan pendakian pada siang hari karena pendakian di malam hari sangat berbahaya berhubung banyaknya jalur-jalur yang sempit menyusuri jurang, juga banyaknya jalur yang memerlukan bantuan kedua tangan kita untuk berpegangan sehingga sulit memegang lampu senter.

JALUR GIRI JAYA ( CURUG PILUNG )

Untuk menuju puncak Gunung Salak pendaki dapat melalui Jalur Giri Jaya dengan waktu tempuh sekitar 5 – 8 jam perjalanan. Jalur ini tepatnya berada di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug dengan ongkos sekitar Rp. 7.500,- Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan. Tidak ada kendaraan umum yang menuju Giri Jaya sehingga tempat ini tidak begitu dikenal. Sesampainya kita di pintu masuk Wana Wisata Curug Pilung, dengan berjalan kaki beberapa meter kita akan melihat gapura pintu masuk Pasareyan Eyang Santri. Kita akan melewati kompleks makam yang penuh suasana magis. Jalan setapak di kompleks Pasareyan Eyang Santri sangat bersih dan rapi. Makam keramat ini seringkali dikunjungi oleh para pejiarah dari luar Sukabumi. Dari kompleks pasareyan Eyang Santri kita berjalan melalui rumah-rumah penduduk, kemudian akan sampai di kebun-kebun penduduk. Setelah berjalan sekitar 15 menit kita akan sampai disebuah tempat yang sering digunakan Eyang Santri untuk bertapa. Di pertapaan ini terdapat MCK, pendaki harus mengambil air bersih disini karena selebihnya hingga mencapai puncak tidak terdapat mata air. Terdapat Air terjun yang sangat indah di bawah pertapaan Eyang Santri, air terjun Curug pilung di atasnya lebar seperti danau, baru airnya tumpah membentuk air terjun. Para pendaki yang berkemah di sekitar tempat ini harus berhati-hati, karena sering diganggu oleh babi hutan. Biasanya para pendaki menginap di Pondok Pak Irwan. Pak Irwan sangat baik banyak membantu para pendaki yang kesasar turun melalui jalur ini setelah mendaki Gunung Salak. Dari Pertapaan Eyang Santri jalur masih agak landai melewati pohon-pohon damar yang masih pendek, di siang hari sangat panas namun pemandangan sangat indah. Bila cuaca bagus kita dapat menyaksikan puncak Gunung Gede dan Pangrango dengan sangat jelas. Lereng-lereng Gunung Salak sangat indah sekali, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan lebat. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis. Sekitar 1 jam perjalanan jalur masih agak landai melewati jalan air yang sempit dan licin. Di beberapa tempat banyak ditumbuhi pohon pisang dan pandan.

Jalur mulai menanjak curam melewati tanah yang lunak sehingga sangat licin, di musim penghujan jalur ini sangat licin sekali dan banyak terdapat pacet. Di sisi jalur juga sering kita jumpai pohon pandan dengan daun yang berduri tajam menghalangi jalur. Pendaki tidak akan menemukan tempat yang cukup luas dan kering untuk mendirikan tenda. Sekitar 3 hingga 4 jam perjalanan kita akan sampai di sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitar makam keramat ini terdapat mushola dan sebuah pondok. Di belakang pondok terdapat bak penampungan air yang berasal dari pipa saluran air. Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, sekitar 2 jam perjalanan kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 1/2 jam kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah.

(Puncak Gunung Salak)

Thanks to:

Goling

Ika Prima

Bonang

All Crew RANITA UIN

Ekspedisi Gunung Argopuro 3.088 mdpl (2 Episode) Complicated Via Bremi-Baderan

Gunung Argopuro adalah salah satu gunung dari kompleks pegunungan Hyang. Terdapat banyak puncak, beberapa puncaknya mempunyai struktur geologi tua dan sebagian yang lainnya lebih muda. Beberapa puncak gunung dalam kompleks ini diantaranya adalah Gn. Jambangan (2.773m), Gn. Cemoro Kandang, Gn. Krincing, Gn. Kukusan, Gn. Malang, Gn. Saing, Gn. Karang Sela, dan Gn. Argopuro. Puncak Argopuro berada pada ketinggian 3.088 mdpl. Gunung yang sudah tidak aktif lagi kawahnya ini terletak di Kab. Probolinggo Jawa Timur. Untuk menuju Bremi dapat ditempuh dari kota Surabaya naik bus jurusan Probolinggo. Dari kota probolinggo naik bus Akas kecil jurusan ke Bremi. Bus ini berangkat dari pool Akas yang berada di terminal lama, samping hotel Bromo Indah. Bus ini berangkat dua kali, pagi jam 06.00 dan siang jam 12.00, sedangkan kembali dari Bremi menuju kota Besuki jam 08.00 dan jam 15.00. Sebelum melakukan pendakian wajib melaporkan diri di kantor polisi sektor Krucil untuk dicatat identitasnya. Di desa Bremi ini sebagian besar penduduknya adalah masyarakat Madura yang kadang tidak mengerti Bahasa Indonesia sehingga agak sulit berkomunikasi.


Perjalanan dimulai dari kantor polisi turun menuju pertigaan menuju arah perkebunan Ayer Dingin. Dengan melewati kebun penduduk yang kebanyakan ditanami jagung dan padi, selanjutnya akan memasuki kawasan perkebunan yang ditanami kopi dan sengon. Jalur semakin menanjak dan mulai memasuki kawasan hutan damar. Setelah berjalan sekitar 2 jam kita akan memasuki batas hutan suaka. Dari batas suaka alam, hutan semakin lebat dan jalur semakin terjal. Pendaki perlu waspada di kawasan ini banyak dihuni babi hutan. Perhatikan semak-semak yang bergerak dan suara khas babi yang sering muncul disekitar jalur pendakian. Bila kita sudah sampai di puncak bukit maka kita akan menemukan persimpangan jalur. Ambil lurus bila ingin terus menuju puncak, namun bila ingin ke Danau Taman Hidup harus berbelok ke kanan.

Danau Taman Hidup adalah lokasi berkemah yang cukup luas. Di sekitar tempat ini kadang muncul babi hutan, kancil dan kijang, terdapat sebuah danau yang luas dan banyak ikannya sehingga dapat dipancing. Pendaki juga dapat mengambil air bersih dari danau ini. Tepian danau ini sangat berbahaya berupa rawa berlumpur, sehingga untuk mengambil air pendaki harus melewati jembatan dermaga kayu. Dari dermaga ini pendaki seringkali mandi berenang ke dalam danau. Namun perlu diperhatikan bila air sangat dingin berbahaya sekali untuk berenang. Ketika udara cerah bila pendaki berteriak maka kabut akan muncul di atas danau, namun setelah diam kabut akan hilang lagi. Pendaki juga dapat mengelilingi danau untuk memancing ikan. Pada pagi hari kabut tebal menyelimuti danau sehingga berbahaya bila ingin mengambil air, karena dapat terjebak di rawa tepian danau. Untuk itu persiapkan air jauh sebelumnya ketika cuaca cerah.
Meninggalkan Danau Taman Hidup pendaki harus berjalan ke arah semula menuju persimpangan dan belok ke kanan ke arah puncak. Jalur agak landai namun suasana hutan semakin lebat. Setelah berjalan sekitar 30 menit kita akan berjumpa dengan sungai kecil yang kering. Jalur selanjutnya semakin menanjak, di sepanjang jalur dapat kita temukan jejak babi hutan, bahkan jejak kaki macan yang masih baru. Selanjutnya kita akan memasuki kawasan hutan yang semakin gelap dan lembab, begitu dekatnya jarak antara pohon sehingga sulit bagi sinar matahari untuk menembusnya. Kawasan ini di sebut hutan lumut karena semua pohon di areal ini ditutupi oleh lumut. Kesan angker dan menyeramkan sangat terasa ketika melewati daerah ini. Jejak kancil, menjangan, babi hutan dan macan dapat ditemukan di sepanjang jalur ini. Sekitar 1 jam melintasi hutan lumut kita memasuki hutan yang jarak pohonnya tidak terlalu rapat, sehingga kelihatan agak terang. Tumbuhan herbal dan rumputpun tumbuh subur. Jalur ini menyusuri lereng bukit dengan sisi kiri berupa jurang. Rumput yang tumbuh kadang begitu tingginya, sehingga menutupi jalur. Sesekali terdengar kicauan aneka jenis burung. 30 menit selanjutnya kita akan tiba di lereng yang banyak batu-batu besar. Disini banyak terdapat pohon tumbang sisa kebakaran hutan. Kita harus melintasi 3 buah sungai kering dengan cara turun jurang dan naik lagi ke atas bukit. Bukit-bukit di depan kita banyak di tumbuhi rumput dengan pohon yang agak jarang. Sesekali terlihat kancil atau menjangan berlari-larian, sementara belasan lutung-lutung bergantungan di atas pohon.
Sekitar 1 jam berikutnya kita sudah berada di lereng bukit yang banyak ditumbuhi rumput-rumput tinggi. Rumput-rumput ini seringkali menutupi jalur sehingga sangat menggangu. Di antara rerumputan edelweis mulai tumbuh, pohon-pohon besar sisa kebakaran masih bertahan hidup dengan menumbuhkan daun-daun hijau yang baru. Dengan menempuh waktu sekitar 30 menit melintasi rerumputan yang mengelilingi bukit kita akan tiba di sebuah sungai kecil yang airnya mengalir lancar. Pendaki dapat mendirikan tenda di daerah Kali putih ini. Berikutnya kita akan melintasi hutan cemara yang banyak ditumbuhi rumput-rumput yang tinggi, 1 jam selanjutnya akan tiba di padang rumput gimbal, rumput di sini berbentuk keriting dan tumbuh secara bergerombol. Perjalanan memutar mengelilingi puncak gunung dengan menyusuri padang rumput gimbal. Selanjutnya akan sampai di Cisentor. Cisentor adalah tempat pertemuan jalur baderan dan bremi yang bersatu menuju puncak. Di tempat ini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Di Cisentor terdapat sebuah bangunan dari kayu yang dapat digunakan untuk berlindung dari hujan dan angin.
Dari Cisentor perjalanan mendaki bukit melintasi padang rumput dan padang edelweiss, sekitar 1 jam perjalanan akan berjumpa dengan sungai yang kering. Setelah menyeberangi dua buah sungai kering kembali melintasi padang rumput dan padang edelweis yang sangat indah. 1 jam berikutnya akan tiba di Rawa Embik. Untuk menuju puncak belok ke kiri, namun bila ingin beristirahat dapat mendirikan tenda di Rawa Embik. Di tempat ini terdapat sungai kecil yang selalu berair di musim kemarau. Rawa Embik berupa lapangan terbuka sehingga bila angin bertiup kencang tenda dapat bergoyang-goyang dengan keras.
Dari Rawa Embik kembali berbelok kearah kiri melintasi padang rumput, untuk menuju ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Dari padang rumput berbelok ke kanan mendaki lereng terjal yang berdebu dan banyak pohon tumbang sisa kebakaran. Bila angin bertiup kencang pohon-pohon sisa kebakaran ini rawan tumbang sehingga harus berhati-hati. Tanah gembur berdebu juga rawan longsor harus berhati-hati melintasinya. Selanjutnya sedikit turun kita akan melintasi sebuah sungai yang kering dan berbatu. Kembali mendaki bukit yang terjal, kita akan berjumpa dengan padang rumput dan padang edelweis yang sangat indah. Di depan kita nampak puncak Rengganis yang berwarna keputihan, terdiri dari batu kapur dan belerang. Puncak gunung Argopuro adalah bekas kawah yang sudah mati, bau belerang masih sangat terasa. Puncak ini berbentuk punden berundak semacam tempat pemujaan, punden paling bawah selebar lapangan bola di sini banyak terdapat batu-batu berserakan. Ke atas lagi selebar sekitar 10×10 meter, ke atas lebih kecil lagi. Selanjutnya kita akan melintasi bekas kawah yang banyak terdapat batu-batu kapur berwarna putih dan bau belerang. Pada puncak tertinggi terdapat susunan batu yang diyakini sebagai petilasan Dewi Rengganis.

( @ Danau Taman Hidup)

(Danau Taman Hidup)

( @ Pondok Cisentor)

(Pondok Cisentor)

( Menuju Rawa Embik)

(Menuju Rawa Embik)

( In memoriam di Puncak Rengganis)

(Memorian di Puncak Rengganis)

( @ Puncak Rengganis)

(Puncak Rengganis)

( @ Cikasur) adalah bekas landasan peawat terbang pada jaman kolonial

( Lembah Cikasur) adalah bekas landasan

pesawat terbang pada jaman kolonial)

Thanks to:

Saad

Andi Agung

Johan Wisnu

Umar Mubaker

Ahmad

Ndoweh

(All Crew of  TELAPAK)

Next entries »